Tak terasa pandemi COvid-19 sudah berlangsung sekitar 10 bulan, sejak Maret 2020 lalu. Ada begitu banyak perubahan perilaku dan mindset di masyarakat, termasuk siswa, tentang cara belajar secara online. Kita memang harus melakukan belajar mengajar dari jarak jauh secara online, untuk mencegah penularan virus Covid-19 yang tak kunjung mereda.

Apalagi beberapa sekolah yang sudah membuka kelas secara tatap muka, harus kembali menutupnya karena penularan langsung terjadi, seperti di Banyumas Pangandaran, Lampung Barat, Jepara dan beberapa daerah lain.

Mau tidak mau, pandemi Covid-19 membuat kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah. Guru dan siswa harus menggunakan perangkat teknologi dan aplikasi untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara daring.

Awalnya kegiatan belajar online menjadi tantangan bagi guru, siswa atau orang tua.

Pasalnya mereka harus beradaptasi untuk mengubah kebiasaan dari belajar secara tatap muka menjadi secara online melalui perangkat smartphone, laptop dan aplikasi.

Adaptasi tersebut sepintas memang menjadi tantangan bahkan kesulitan. Namun secara perlahan kegiatan belajar online di masa pandemi justru membuat kolaborasi antara sekolah, guru, pemerintah dan orangtua semakin kuat.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta, Nahdiana, kegiatan belajar online justru membuat harmonisasi antara stakeholder semakin kuat.

Bahkan hal ini yang menjadi “hikmah” di masa pandemi. Menurut Nahdiana selama ini peran sekolah dan orangtua seperti ada pembatas. Ketika anak masuk ke sekolah, orangtua seolah-olah melepas tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah.

“Barangkali ada hikmahnya. Hadirnya pandemi itu ada hikmahnya. Kalau dahulu sekolah mungkin sebagian mengatakan sudah selesai anak-anaknya sudah diantar ke sekolah. Kegiatan pembelajaran itu ada di sekolah. Seolah-olah ada pembatas,” kata Nahdiana dalam acara Podcast.

Saat pandemi semua berubah. Sekolah dan orangtua harus berkolaborasi supaya kegiatan belajar online bisa maksimal. Guru harus memberikan materi pembelajaran yang maksimal kepada anak secara online, sedangkan orangtua harus mendampingi anak saat belajar di rumah.

Hasilnya muncul harmonisasi antar stakeholder pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pendidikan secara maksimal kepada anak.

“Jadi bagaimana harmonisasi antara sekolah, orangtua, guru dengan dinas pendidikan tapi fokusnya pada anak bukan pada ego sektoral masing-masing,” tutur Nahdiana.