Sutarti, perempuan bercaping itu terlihat terengah-engah. Keringat bercucuran setelah ia menaikkan pasir ke atas mobil pikap. Sejenak ia meletakkan peralatan yang dipegangnya dan menghampiri seorang gadis kecil yang tengah menggengam buku sekolah. Bocah tersebut adalah Wanda, putri kecilnya yang masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD)

Dampingi anak di sela aktivitas menambang pasirSutarti yang bekerja sebagai penambang pasir tak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu. Dengan penuh kesadaran dan kesabaran, di sela waktu istirahatnya Sutarti menemani putrinya belajar di lokasi tambang pasir di Kali Gendol, Sleman, Yogyakarta. 


Suara deru kendaraan pengangkut pasir yang berlalu-lalang di tempat tersebut tak menyurutkan semangat Sutarti dan Wanda untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah. Wanda memang kerap menyusul ibunya ke lokasi bekerja. 


Sebab tak ada orang yang mendampinginya belajar ketika di rumah. Sang ayah juga pergi bekerja sebagai pengurus ternak orang lain. "Kalau di rumah tidak ada yang mendampingi, kalau saya harus balik ke rumah terus ke sini lagi kan repot. Wanda juga minat belajar di sini, katanya biar mamake (ibu) tidak repot," kata dia.


Ikut pelajari buku anaknya Sebagai pendamping belajar, Sutarti pun harus menyempatkan membaca buku anaknya. Sebab jika anaknya tidak paham, dia harus bisa mengajari. "Ya akhirnya ikut membaca, belajar karena kan mendampingi belajar. Ya mau tidak mau juga harus bisa, kalau ditanya jadi bisa menjawab," katanya. Pada waktu mengirim tugas Wanda, Sutarti juga harus mendampingi. "Ya kalau jamnya sekolah daring atau mengirim tugas saya mendampingi. Selesai itu saya kerja lagi, agar istilahnya dapur tetap ngebul," ungkap dia.


Penghasilan suami pas-pasan


Sutarti mau tak mau harus tetap bekerja karena penghasilan suami juga pas-pasan. Suaminya bekerja mengurus ternak milik orang lain. Sedangkan penghasilan Sutarti tidak menentu. Dia hanya dibayar ketika pasir sudah terkumpul dan bisa naik dalam mobil pikap. "Muat pasir kadang lima hari sekali kadang ya enam hari, sekali muat itu dapat Rp 130 ribu dibagi dua dengan ibu saya kan juga ikut menambang. Carinya (pasir) kan susah, Ya karena perempuan sebisa dan sekuatnya saja," ungkapnya. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, penghasilannya juga digunakan untuk membeli pulsa internet agar anaknya bisa terus belajar.


Hasil memuaskan Usahanya dalam mendampingi Wanda di sela-sela bekerja tidak sia-sia. Anaknya mendapatkan peringkat 10 besar secara rutin. "Kelas satu sampai tiga itu tiga besar, kemarin kelas empat ranking enam. Ya senang, ini (Wanda) bisa selalu 10 besar," katanya.

Dengan kondisi Merapi yang berstatus siaga, Sutarti mengaku khawatir terjadinya erupsi sewaktu-waktu. Dia masih ingat betul kejadian erupsi tahun 2010 yang membuat rumahnya tinggal fondasinya saja. Apalagi tempatnya menambang pasir dengan Gunung Merapi hanya berjarak 7 kilometer. "Kalau khawatir ya tetap khawatir, masih ada trauma 2010 juga. Tapi bagaimana lagi, sopir-sopir di sini bawa HT untuk memantau Merapi," ucap dia