Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia (ASI) Ali Rifan mengatakan, di penghujung tahun 2020, perlu dibuat diskusi khusus soal outlook pendidikan nasional 2021. Khususnya menyoal ekosistem pembelajarn daring dan pentingnya internet sehat.

Hal ini sebagai respons dari temuan survei nasional tentang program kuota internet gratis Pusdatin Kemendikbud RI. Survei yang digelar Oktober 2020 tersebut menyebutkan, sebanyak 80,5 persen persen masyarakat ingin program bantuan kuota internet dilanjutkan pada tahun 2021.

“Itulah salah satu alasan mengapa kita ingin membahas secara khusus outlook pendidikan 2021,” ujar Ali dalam diskusi & rilis temuan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Outlook Pendidikan 2021: Membangun Ekosistem Pembelajaran Daring & Pentingnya Internet Sehat”.

Dalam FGD yang dilaksanakan mulai tanggal 7 sampai 12 Desember 2020 yang melibatkan 6 pakar, pengamat dan praktisi pendidikan itu, Ali juga menuturkan, di era revolusi industri 4.0 dan gelombang teknonologi digital yang makin canggih, pembelajaran daring punya prospek yang panjang.

“Apalagi menurut survei kami, aspirasi publik ingin program kuota internet gratis perlu dilanjutkan tahun 2021,” ujar Ali.

Sementara itu, menurut Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud M. Hasan Chabibie, dalam sambutannya mengatakan, teknologi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan saat ini dan di masa mendatang. Itulah mengapa bantuan kouta internet gratis sangat penting, sebagai upaya menjaga nyala api pendidikan nasional.

“Teknologi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan sekarang dan di masa mendatang. Bantuan kuota internet bentuk negara hadir, dan upaya menjaga asa dunia pendidikan kita di tengah pandemi,” kata M. Hasan.

Lebih lanjut, Peneliti Utama Bidang Pendidikan ASI Budy Sugandi, dalam pemaparannya mengatakan, dalam konteks membangun ekosistem pembelajaran daring, kolaborasi antara pihak pemerintah dan swasta menjadi prasyarat penting .

“Untuk membangun ekosistem pembelajaran daring, pihak pemerintah harus bersinergi. Baik Kemendikbud sebagai pencipta regulasi ataupun Kominfo dan kementerian lainnya sebagai penunjang dengan pihak swasta, seperti pihak provider ataupun pemilik aplikasi dan platform pembelajaran daring,” kata Budy.

Sementera terkait pentingnya internet sehat, Budy juga menuturkan, perlu adanya edukasi yang berkesinambungan, seperti halnya tidak melakukan ujaran kebencian (hate sepeech) dalam pemakaian internet (bermedia sosial). “Kampanye yang menyeluruh ke seluruh komponen untuk menggunakan internet sehat perlu secara gencar dilakukan,” tambahnya.


Diketahui, acara tersebut juga dihadiri sejumlah narasumber antara lain, Kaprodi Pendidikan Fisika UPI Achmad Samsudin, Peneliti LIPI Fikri Muslim, dan CEO Clevio Coder Camp Fransisca Oetami.