Pembelajaran jarak jauh (PJJ), tampaknya masih menjadi pilihan pemerintah untuk proses pembelajaran di lembaga pendidikan formal. Meski demikian, pada praktiknya masih banyak kendala yang ditemui di lapangan. Pada periode awal PJJ, kendala yang banyak muncul adalah ketersediaan peralatan berupa ponsel, kuota internet, hingga jaringan internet. Kendala ini belum bisa terselesaikan sepenuhnya. Pemerintah telah berupaya meluncurkan program bantuan kuota belajar bagi siswa dan membangun jaringan internet ke daerah-daerah blank spot.

 Pembelajaran jarak jauh (PJJ), tampaknya masih menjadi pilihan pemerintah untuk proses pembelajaran di lembaga pendidikan formal. Meski demikian, pada praktiknya masih banyak kendala yang ditemui di lapangan. Pada periode awal PJJ, kendala yang banyak muncul adalah ketersediaan peralatan berupa ponsel, kuota internet, hingga jaringan internet. Kendala ini belum bisa terselesaikan sepenuhnya. Pemerintah telah berupaya meluncurkan program bantuan kuota belajar bagi siswa dan membangun jaringan internet ke daerah-daerah blank spot.

 Namun, untuk kendala penyediaan ponsel, sampai saat ini memang belum ada bantuan untuk tiap siswa. Budi Hermawan pernah membuat terobosan besar untuk penyediaan jaringan internet di kampungnya, dengan internet murah Rp 33.000 per bulan. Pria asal Garut, Jawa Barat, ini ternyata masih belum puas dengan terobosan penyediaan jaringan internet murahnya. Budi melihat masih banyak pelajar yang belum bisa melakukan PJJ karena terkendala kepemilikan ponsel. Bahkan, jangankan para murid, banyak orangtua di daerah perkampungan yang masih belum memiliki ponsel. Di bawah bendera Badan Usaha Milik Kampung ( Bumka) Tekno Sains (BTS) yang dibangunnya, Budi pun melakukan berbagai percobaan pola pelaksanaan PJJ. Pada akhirnya, Budi menemukan pola PJJ yang bisa diterima oleh murid, orangtua murid dan pihak sekolah (guru). “Caranya pakai televisi, tapi bukan siaran televisi. Kalau siaran televisi kan tidak bisa interaktif, kalau pola ini, guru dan murid bisa komunikasi dua arah dengan suara dan gambarnya,” kata Budi kepada Kompas.com, Jumat (4/12/2020).

 Menurut Budi, saat ini sudah hampir tiap rumah memiliki televisi. Adapun pola yang dia kembangkan ini bisa dilakukan dengan beragam jenis televisi, termasuk televisi tabung model lama. Belajar secara berkelompok Budi mengatakan, pola ini tetap membutuhkan ponsel dan internet. Namun, bedanya, siswa yang tidak memiliki ponsel bisa bergabung dengan yang lainnya. “Jadi kalau menggunakan televisi, siswa bisa belajar secara berkelompok.

 Siswa yang tidak punya ponsel bisa gabung dengan temannya yang punya ponsel dan televisi, karena tetap perlu ada ponsel dan jaringan internet,” kata dia. Menurut Budi, konsep yang dikembangkannya cukup sederhana. PJJ dilakukan bisa menggunakan aplikasi zoom meeting atau aplikasi Pijar yang dikembangkan Telkom.

 Jika biasanya satu ponsel untuk satu siswa, dengan bantuan televisi, satu ponsel bisa untuk maksimal 10 siswa sesuai dengan pengelompokan. “Jadi, tampilan layar di ponsel dimunculkan di layar televisi, berikut suaranya. Jadi kan lebih besar tampilannya, banyak siswa bisa lihat seperti halnya nonton televisi. Kalau di ponsel kan untuk berdua saja, sulit,” kata Budi. Pola PJJ yang dilakukan Budi, saat ini telah dites sedikitnya di enam sekolah di Garut. Salah satunya adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Garut di Kecamatan Cibatu, yang tidak jauh dari tempat tinggal Budi. Di sekolah ini, uji coba pola PJJ yang dilakukan Budi sudah dilaksanakan selama lebih kurang 3 bulan. 

Orangtua siswa, guru dan murid pun merasa nyaman dengan pola PJJ yang dikembangkan Budi. “Sudah tiga bulan pakai cara ini, alhamdulillah anak-anak terlihat senang bisa ketemu teman dan guru walau hanya lihat dari televisi,” ujar Elis Liswati (40), warga Kampung Karyasari, Desa Karyamukti, Kecamatan Cibatu. Elis adalah orangtua dari Fia, siswa kelas VI MIN I Garut. 

Elis menuturkan, setiap kali pelaksanaan PJJ, rumahnya menjadi tempat berkumpul 10 orang anak yang tinggal di kampungnya dan sekitar kampungnya. Elis hanya perlu menyediakan ponsel android dan televisi tabung yang ada di rumahnya, serta peralatan tambahan yang didapat dari sekolah. “Kalau soal kuota kan sudah ada bantuan dari pemerintah, tiap PJJ juga kuota enggak habis banyak,” kata dia.

 Saat waktu belajar tiba, ponsel android disambungkan ke televisi dengan perangkat tambahan. Kemudian, ditambah mikrofon agar siswa bisa berbicara dengan guru dan kawannya yang terlihat dari layar televisi.   Dinilai efektif Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum MIN 1 Garut Endang Sobarna mengungkapkan, sekolahnya sudah 3 bulan mengikuti pola yang dikembangkan oleh Bumka Tekno Sains. Menurut Endang, para siswa dan orangtua sangat terbantu dengan cara PJJ seperti saat ini. “Kan banyak siswa yang tidak punya HP.

 Pakai cara ini, satu HP bisa untuk 10 siswa. Mereka juga bisa interaktif dengan guru dan teman lainnya,” kata Endang. Sebelum memulai PJJ dengan cara yang dikembangkan Bumka, menurut Endang, pihaknya telah membagi-bagi siswa dalam kelompok-kelompok di tiap kelas yang disesuaikan dengan tempat tinggal. 

Tiap kelompok akan melakukan PJJ di rumah siswa yang memiliki ponsel android dan televisi. Tiap kali PJJ, maksimal dilaksanakan selama 2 jam untuk 2 mata pelajaran. “Materi pembelajaran kita modifikasi juga agar siswa tidak bosan. Bisa bikin video-video pembelajaran yang ditampilkan di layar, atau kuis-kuis untuk siswa,” kata dia. “Sebelumnya kan pakai WA grup, bagi-bagi tugas, jarang bisa tatap muka. Sekarang bisa tatap muka, bagi-bagi tugas dan jadwal, jadi lebih semangat belajarnya.

 Orangtua juga mendukung penuh,” kata Endang. Jaziray Hartoyo selaku Asisten Deputi Literasi, Inovasi dan Kreativitas Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan dan Prestasi Olahraga Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengatakan, pola ini sangat mudah dilakukan oleh banyak orang dan bisa jadi solusi PJJ. “Peralatannya biasa saja dan tersedia di pasaran, bisa beli dan merangkai sendiri, yang mahal itu idenya,” kata Jaziray saat ditemui usai melihat langsung PJJ dengan media televisi tersebut, Jumat. Jaziray mengapresiasi inovasi dan kreativitas Bumka Tekno Sains atas penciptaan perangkat dengan teknologi sederhana.

 Hal ini membuat proses PJJ bisa begitu mudah dan sangat memungkinkan untuk dikembangkan di seluruh Indonesia. “Ada rencana awal tahun pembelajaran tatap muka dilakukan, tapi tetap harus ada izin orangtua. Zona hijau pun tanpa ada izin orangtua tidak bisa. Makanya, kita coba mengembangkan pola blended learning, campuran tatap muka dan belajar jarak jauh,” kata dia.