Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Sartono menilai, pada 2021 ini dunia pendidikan Indonesia akan mulai mengalami perbaikan.

Hal itu ia percayai, pasalnya baik siswa, guru, mahasiswa dan dosen sudah mulai terbiasa dengan sistem pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun diminta untuk melakukan terobosan.

’’Di 2021 kalau melihat ini semua, saya melihat mungkin sedikit akan lebih baik dari 2020, setidaknya karena baik guru, dosen, maupun siswa serta mahasiswa sudah terbiasa selama tahun pertama,’’ jelas dia dalam siaran YouTube Pendidikan VOX Point, Senin (4/1).

Tantangan ini juga sekaligus momentum bagi guru dan dosen untuk mengembangkan konten pembelajaran. Misalnya saja membuat materi pembelajaran dari para guru-guru ahli di bidangnya masing-masing.

’’Saya bayangkan misalnya mata pelajaran anak sekolah dasar kelas 4 sampai kelas 12, katakanlah matematika panggil guru-guru yang hebat untuk mengembangkan konten pembelajaran matematika kelas 4 sampai 12, dikembangkan kontennya lalu diolah dengan baik sehingga bisa tersalurkan dengan mudah dan dipahami oleh siswa,’’ ujar dia.

Bahkan, kata dia Kemendikbud dapat memanfaatkan konten pembelajaran yang dibuat oleh para guru tersebut untuk bisa menjadi materi pembelajaran secara nasional.

’’Waktu itu pemerintah membeli hak cipta bagi guru bagi buku-buku yang dikarang oleh guru, jadi guru itu didorong untuk menulis buku ajar, lalu diseleksi yang bagus, dibeli hak ciptanya waktu itu, kalau tidak salah satu judul itu Rp 75 juta, itu jadi milik pemerintah,’’ tambahnya. ’’Penerbit boleh mencetak buku dan dibatasi harga jualnya, tapi tidak boleh mendapatkan keuntungan yang melebihi kewajaran, dikontrol betul jadi tersedia bahan ajar yang melimpah,’’ sambung dia.

Kemendikbud juga bisa memberdayakan kelompok guru, seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk membuat konten pembelajaran.’’Silahkan mereka mengembangkan konsep pembelajaran ini, nanti hak cipta dibeli, sehingga konten pembelajaran matematika, biologi, apapun. Dari kelas 4 sampai kelas 12 itu tersedia sangat banyak, beragam dan bagus, lalu di taruh di Rumah Belajar sehingga siswa bisa mendownload lebih lebih dulu, sehingga pembelajaran pada saat online itu bisa dimanfaatkan lebih efektif untuk diskusi,’’ tutur dia.

Hal ini, kata Agus juga dapat diterapkan untuk level perguruan tinggi. Pandemi ini seharusnya dapat dialihfungsikan untuk mengejar ketertinggalan.

Kemampuan penguasaan IT guru harus di-update, kemudian Kemendikbud harus melakukan terobosan untuk triwulan pertama, harus ada program menun konten pembelajaran, dibuat kelompok guru ahli. ’’Sehingga saya yakin betul ini, kalau dulu modelnya membeli hak cipta buku, sekarang membeli hak kembang dari konten pembelajaran, lalu kita upload di situ (Rumah Belajar),’’ urianya. (*)