Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melaksanakan survei ke sejumlah sekolah. Tujuannya untuk mengetahui potensi learning loss atau kehilangan kompetensi belajar siswa akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Terdapat 20 persen sekolah secara nasional menyatakan sebagian siswa tidak memenuhi kompetensi. 20 persen inilah yang diduga mengalami learning loss,” ujar Plt Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemendikbud, Totok Suprayitno dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi X DPR RI secara daring, Kamis (21/1).

Artinya, 80 persen siswa masih mampu mencapai hasil belajar mereka di tengah pandemi. Namun bukan berarti angka 80 persen itu akan terus bertahan. Apalagi, mengingat PJJ masih akan terus berlangsung. Jadi, pihaknya melihat bahwa potensi learning loss itu akan tetap ada, bahkan bisa saja bertambah.



“Tanda-tanda itu mulai nampak, walaupun survei ini baru hasil analisas guru berdasarkan hasil diagnostiknya,” tambah Totok.

Oleh karenanya, dia meminta guru untuk terus berinovasi. Seperti memberikan pembelajaran yang kreatif agar mampu diserap siswa. “Adaptasi oleh guru harus lebih luas,” tegas dia.

Berbagai kemudahan yang diberikan, para guru bisa memanfaatkan kurikulum darurat. Guru bisa menciptakan pembelajaran dengan konsep yang merdeka dan menghadirkan pembelajaran yang esensial.

“Dengan variasi mengajar dari kurikulum darurat dengan konsep merdeka belajar tentu tiddak menjadi kerangkeng. Tapi menjadi kerangka untuk pembelajaran yang bervariasi,” tutup Totok.