Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memiliki sejumlah item dalam program Merdeka Belajar, bahkan dikatakan hampir serupa. Mulai dari Program Guru Penggerak, Program Sekolah Penggerak dan Program Organisasi Penggerak (POP).

Koordinator Nasional Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim menilai bahwa ketiga program tersebut memiliki potensi tumpang tindih. Sebab, ketiga program hampir serupa, yakni pengembangan kompetensi guru.

’’Kami dari P2G memandang ada potensi tumpang tindih antara program guru penggerak dengan program sekolah penggerak ya, ditambah lagi sebenernya POP,’’ jelas dia kepada JawaPos.com, Minggu (14/2).

Oleh karenanya, pihaknya meminta langkah lebih awal adalah Kemendikbud harus betul-betul mensosialisasikan kepada pemerintah daerah (pemda) dan dinas pendidikan (disdik) daerah terkait 3 program tersebut.

’’Sosialisasi koordinasi wajib di lakukan oleh kemendikbud dengan dinas-dinas pendidikan di daerah, karena bagaimana pun juga kepala sekolah itu adalah secara struktural dibawah dinas pendidikan dan pemda setempat itu yang pertama ya,’’ tambahnya.

Apabila ketiga program tersebut telah disosialisasikan dengan baik, niscaya pelaksanaannya pun akan berjalan dengan lancar. Menurutnya, tidak akan ada lagi kesalahpahaman terkait perbedaan tiga program yang memakai kata penggerak itu.

’’Sebenernya bagi kami itu ada irisan kesamaan gitu, sehingga kalo sudah disosialisasikan secara utuh, menyeluruh dan tuntas, maka kami di lapangan, dalam hal ini guru-guru, tidak lagi memandangnya bias, gitu,’’ tegasnya. (*)