Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, bahwa sejak awal tidak boleh melarang atau memerintahkan penggunaan seragam sekolah dan atribut keagamaan. Hal tersebut telah tercantum dalam Permendikbud 45/2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

’’Jadi, kita semua harus saling menghormati perbedaan keyakinan yang ada dan melingkupi seluruh bangsa ini,’’ ujarnya dalam Penandatanganan SKB Tiga Menteri secara daring, Rabu (3/2).

Kata dia, perbedaan yang dimiliki Indonesia hakekatnya menjadi perekat dan terbukti sebagai modal pemersatu bangsa, untuk komunikasi antarwarga bangsa dan harus dibina dengan baik. Apabila hal ini dipahami masyarakat Indonesia, kasus intoleransi di lingkungan sekolah kemungkinan sangat minim, tidak seperti sekarang.

’’Dengan begitu saya yakin tidak ada namanya pemaksaan dan sebagai dan sebagainya. Hal-hal yang segera yang mirip dengan pemaksaan, diskriminasi, intimidasi dan seterusnya karena itu kita bisa saling memahami dan menghormati keberagaman kita,’’ tambahnya.

Ia menekankan bahwa masyarakat hidup dalam berbangsa dan bernegara. Salah satunya dalam hal beragama, setiap individu memiliki kebebasan untuk melakukan ekspresi dalam beragama.

Namun, yang harus diingat bahwa kebebasan yang dimiliki tiap individu ini dibatasi oleh kebebasan yang dimiliki oleh orang lain. Oleh karenanya, hidup tidak boleh terlalu individualistis. ’’Jadi tidak ada dasar tidak ada alasan kita bisa berlaku semena-mena kepada orang lain atas nama kebebasan beragama,’’ tegasnya. (*)


sumber


Homeschooling - Bimbel Les Privat - UTBK Kedokteran PTN - Kuliah Online - PKBM