Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun ini kembali meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar. Kali ini adalah Merdeka Belajar Episode 7, yaitu Program Sekolah Penggerak. Program ini sebagai program penyempurnaan transformasi sekolah sebelumnya, dikatakan Program Sekolah Penggerak merupakan katalis sebagai upaya mewujudkan visi pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila.


Program Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter, diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). 

Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. Program Sekolah Penggerak akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak satu sampai dua tahap lebih maju dalam waktu tiga tahun ajaran. 

Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi  Sekolah Penggerak. 

Lima intervensi yang Saling Terkait dan Tidak Bisa Dipisahkan dalam Program Sekolah Penggerak


Presiden Jokowi (3): Kehendak Rakyat Sudah Ditentukan, Setop Istilah Cebong Kampret

Program Sekolah Penggerak terdiri dari lima intervensi yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan, dimulai dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Penguatan kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik, dan guru dilakukan melalui program pelatihan dan pendampingan intensif (coaching one to one) dengan pelatih ahli yang disediakan oleh Kemendikbud.

Intevensi selanjutnya adalah pembelajaran dengan paradigma baru, yaitu pembelajaran yang berorientasi pada penguatan kompetensi dan pengembangan karakter yang sesuai nilai-nilai Pancasila, melalui kegiatan pembelajaran di dalam dan luar kelas. 

Adapun perencanaan berbasis data yang menjadi intervensi ketiga, dimana menitikberatkan pada manajemen berbasis sekolah di mana yang dilakukan berdasarkan refleksi diri satuan pendidikan. 

Keempat, pembelajaran dengan paradigma baru yang dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran yang terdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya.


Adapun intervensi terakhir adalah melakukan digitalisasi sekolah untuk optimalisasi penggunaan berbagai platform digital yang bertujuan mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Digitalisasi mencakup platform guru, berupa profil dan pengembangan kompetensi, alat bantu guru untuk meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran berbasis microlearning dan habituasi. Juga untuk menjalankan pembelajaran kompetensi holistik dan pembelajaran terdiferensiasi.

Berikutnya platform Sumber Daya Sekolah untuk meningkatkan fleksibilitas, transparansi dan akuntabilitas dalam manajemen sumber daya sekolah. Selanjutnya, platform digital lainnya adalah dashboard rapor pendidikan untuk, memotret kondisi mutu pendidikan secara akurat dan otomatis. Dasbor ini berguna sebagai rujukan untuk evaluasi dan perencanaan.

Program ini merupakan program kolaborasi antara Kemendikbud dengan pemerintah daerah (pemda). Untuk itu, komitmen Pemda menjadi kunci utama. Program dilakukan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Sekolah Penggerak. Tahap pertama program Sekolah Penggerak akan menciptakan 2.500 sekolah penggerak yang mencakup 111 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Pendaftaran dibuka hingga 6 Maret 2021 melalui laman sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id. (CM)

sumber