Novianti dan Iksan dihinggapi perasaan campur aduk setelah mendengar cerita Pak Djoko tentang pengalamannya menyiapkan dana pendidikan buat anaknya. Di satu sisi, pasangan yang baru punya anak satu itu terinspirasi oleh pengalaman sang tetangga. Di sisi lain, keduanya malah merasa bahwa upaya yang sama bakal sulit diterapkan dalam kehidupan mereka, lebih-lebih dalam situasi pandemi seperti saat ini.


“Sejak mengetahui istrinya mengandung, 20 tahun lalu, Pak Djoko mulai menyiapkan dana pendidikan buat si bayi. Saban bulan, ia menyimpan uang minimal sebesar Rp1,000.000 di tabungan hingga si anak lulus SMA. Kini, anak Pak Djoko tengah melanjutkan kuliah di Inggris,” beber Novianti, 29 tahun.


Meski sekilas upaya semacam itu tampak bisa dilakukan siapa saja, kondisi keluarga Pak Djoko “amat diuntungkan” oleh pekerjaannya saat masih produktif dulu: seorang petinggi perusahaan BUMN cabang Jawa Barat. Sedangkan bagi pekerja swasta Novianti dan Iksan, lebih-lebih dalam kondisi pagebluk seperti sekarang, upaya menyiapkan dana tabungan dengan cara demikian tak ubahnya sebuah kemewahan. “Dua tahun belakangan situasi keuangan kami kurang stabil.


Saya dan dan istri sempat dirumahkan, cicilan KPR jalan terus, sedangkan kami juga ingin menyiapkan dana pendidikan sedini mungkin,” terang Iksan, 30 tahun. Masuk akal jika Novianti dan Iksan ingin segera punya dana pendidikan buat anaknya yang sekarang berusia 3 tahun.


Selama pandemi, keduanya menyadari dua hal yang selama ini sering terabaikan. Pertama, musibah (termasuk ajal) bisa datang kapan saja; kedua, betapa pentingnya perkara perencanaan finansial. Ya, hari-hari belakangan, tiap mendapat kabar duka dari orang-orang di lingkaran terdekat, Novianti dan Iksan kian sadar bahwa untuk memastikan anak mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi tampak sukar diwujudkan jika hanya mengandalkan tabungan.


“Kami harus mulai merencanakan skema pembiayaan yang menjamin pendidikan anak tetap lancar bahkan jika ia dihadapkan pada situasi terburuk, misalnya salah satu dari kami dinyatakan kritis atau malah mangkat lebih dulu,” sambung Iksan. Kekhawatiran Iksan kian menjadi mengingat biaya yang ia perlukan untuk masuk salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung, 13 tahun lalu.


“Saat itu, uang semester hanya Rp975 ribu. Kini, dengan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya semester di jurusan kami mencapai lima jutaan,”. Sebagai gambaran, per Februari 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut inflasi pendidikan di Indonesia mencapai 3,81 persen per tahun, sedangkan kenaikan rata-rata uang pangkal mencapai 10-15 persen per tahun.


Lumayan besar, kan? Memang, seperti kata Bethany Teachman, profesor psikologi di Universitas Virginia, “Tidak ada naskah yang bisa diikuti tentang cara hidup di tengah pandemi.


Kami dari MyEdu Indonesia memiliki solusi pendidikan yaitu Kuliah berbasis Online yang akan memudahkan mahasiswa untuk belajar dimanapun dan kapanpun dengan biaya terjangkau mulai dari D3, S1 sampai S2, info lebih lanjut hubungi wa 08111 44 8080



Sumber

Sumber

Sumber

Sumber